Banyak perusahaan di Indonesia kini menerapkan standar baru untuk cara bekerja. Salah satunya adalah hybrid working, yang dipilih karena mampu memberikan fleksibilitas bagi karyawan sekaligus menjaga produktivitas perusahaan.
Bagi industri kreatif seperti digital agency, hybrid working menjadi solusi untuk menarik talenta terbaik tanpa batas lokasi, serta mendukung kolaborasi lintas tim secara lebih efisien. Namun, di balik manfaatnya, hybrid working juga menghadirkan tantangan besar. Terutama jika sistem manajemen yang tepat, fleksibilitas akan menjadi hambatan.
Mengapa Hybrid Working Dibutuhkan Pada Industri Digital Agency
Industri kreatif khususnya digital agency merupakan salah satu industri yang adaptif terhadap perubahan. Dengan ritme kerja yang cepat dan tuntunan proyek yang beragam, digital agency membutuhkan model kerja yang fleksibel agar tetap kompetitif.
Hybrid working hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Bagi digital agency, sistem ini sangat bermanfaat seperti:
- Fleksibilitas kerja: Tim kreatif bisa bekerja dari mana saja tanpa mengorbankan produktivitas.
- Akses talenta global: Agency dapat merekrut desainer, copywriter, atau strategist terbaik tanpa batas geografis.
- Efisiensi biaya: Pengurangan kebutuhan ruang kantor permanen sekaligus peningkatan kepuasan karyawan.
- Kolaborasi lintas tim: Dengan dukungan teknologi, koordinasi antara tim kreatif, marketing, dan client service tetap terjaga meski berada di lokasi berbeda.
Tantangan Digital Agency dalam Hybrid Working
Walaupun hybrid working telah diterapkan pada digital agency dan terbukti membawa beragam manfaat, penerapan yang kurang terstruktur justru bisa menimbulkan masalah baru. Terutama jika tanpa sistem manajemen kerja yang jelas, fleksibilitas sering kali berubah menjadi hambatan. Berikut adalah tentang utamanya:
1. Koordinasi Lintas Tim
Digital agency biasanya terdiri dari berbagai divisi: tim kreatif, tim copywriting, tim media sosial, hingga account manager yang berhubungan langsung dengan klien. Dalam sistem hybrid, anggota tim bisa bekerja dari rumah, coworking space, atau kantor.
Kondisi ini membuat koordinasi menjadi lebih kompleks. Tanpa platform yang terintegrasi, miskomunikasi mudah terjadi. Misalnya, tim desain sudah menyelesaikan visual, tetapi tim copywriter belum menerima brief terbaru karena komunikasi hanya lewat chat pribadi. Akibatnya, pekerjaan tertunda dan deadline terancam.
2. Deadline Ketat
Proyek digital agency sering kali berjalan paralel dengan tenggat waktu yang singkat. Klien menginginkan kampanye segera tayang, sementara tim internal harus mengatur banyak proyek sekaligus.
Dalam sistem hybrid, keterlambatan satu tim bisa berdampak langsung pada keseluruhan proyek. Jika tidak ada sistem manajemen yang mampu memantau progres secara real-time, risiko melewatkan deadline semakin besar. Hal ini bukan hanya merugikan agency secara internal, tetapi juga bisa menurunkan kepercayaan klien.
3. Kurangnya Transparansi
Transparansi adalah kunci dalam manajemen proyek. Tanpa dashboard atau sistem pelaporan yang jelas, sulit bagi manajer untuk mengetahui siapa yang mengerjakan apa, sejauh mana progres, dan apa saja hambatan yang muncul.
Dalam hybrid working, masalah ini semakin terasa karena anggota tim tidak selalu berada di satu ruangan. Akibatnya, manajer sering kali harus menghabiskan waktu ekstra untuk menanyakan status pekerjaan secara manual, yang justru mengurangi efisiensi.
4. Produktivitas Menurun
Fleksibilitas hybrid working memang memberi kebebasan, tetapi tanpa alur kerja yang konsisten, produktivitas bisa menurun. Karyawan mungkin kehilangan fokus karena tidak ada sistem yang memandu prioritas pekerjaan.
Misalnya, seorang desainer menghabiskan terlalu banyak waktu pada detail minor, sementara tugas utama tertunda. Tanpa sistem manajemen kerja yang jelas, agency kesulitan menjaga ritme produktivitas tim.
MimosaTree: Optimalkan Project Management Dengan ClickUp
Untuk menjawab tantangan di atas, digital agency membutuhkan sistem manajemen kerja yang mampu mengintegrasikan koordinasi lintas tim, menjaga deadline, meningkatkan transparansi, sekaligus memastikan produktivitas tetap terjaga. Berikut adalah peran dari penggunaan Click Up:
- Task Management: Membagi tugas dengan jelas, lengkap dengan deadline dan prioritas.
- Integrasi Tools: Mendukung integrasi dengan aplikasi kreatif lain, sehingga workflow lebih lancar.
- Dashboard Transparan: Memberikan gambaran menyeluruh tentang progres proyek, memudahkan monitoring.
Penerapan hybrid working pada perusahaan, khususnya digital agency, bukan lagi sekadar tren tetapi sudah menjadi standar baru dalam dunia kerja modern. Dengan berbagai tantangan yang ada, ClickUp dapat menjadi solusi yang tepat yang bermanfaat bagi digital agency.
Namun, agar pemanfaatan platform ini benar-benar maksimal, pelatihan formal menjadi langkah strategis yang tidak bisa diabaikan. Salah satu latihan yang dapat diikuti adalah pelatihan ClickUp dari MimosaTree, Sebab sebagai Partner Resmi ClickUp di Indonesia kami tidak hanya akan membekali tentang teori saja tetapi juga praktik yang dapat diterapkan secara langsung sesuai dengan workflow.
Tertarik untuk mengikuti pelatihan ClickUp dari MimosaTree? Yuk hubungi kami sekarang dan wujudkan sistem workflow yang optimal.








