Percepatan teknologi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah melahirkan kultur kerja baru yang lebih fleksibel dan dinamis. Kultur kerja tersebut adalah sistem kerja hybrid yang menggabungkan kerja dari rumah (WFH) dan kerja dari kantor (WFO).
Model ini dianggap sebagai jawaban atas kebutuhan perusahaan untuk tetap produktif sekaligus memberi ruang bagi karyawan menjaga keseimbangan hidup. Namun, di balik fleksibilitas tersebut, muncul pertanyaan penting: bagaimana dampak kerja hybrid terhadap kesehatan mental karyawan?
Dampak Positif Kerja Hybrid terhadap Kesehatan Mental
Demi mendukung work-life balance, sistem hybrid working memberikan ruang bagi karyawan untuk menyesuaikan ritme kerja sesuai dengan kebutuhan pribadi. Namun tak hanya itu, berikut adalah manfaat dari kerja hybrid:
1. Mengurangi stres perjalanan
Dengan adanya opsi bekerja dari rumah, karyawan tidak perlu menghadapi kemacetan setiap hari. Hal ini secara langsung menurunkan tingkat stres dan memberi lebih banyak energi untuk fokus pada pekerjaan.
2. Meningkatkan kedekatan dengan keluarga
Waktu yang biasanya habis di perjalanan bisa dialihkan untuk aktivitas bersama keluarga. Kedekatan emosional ini memberikan kontribusi pada kesehatan mental yang lebih stabil.
3. Produktivitas lebih tinggi
Banyak karyawan merasa lebih fokus saat bekerja dari rumah, terutama untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi. Lingkungan yang lebih tenang membantu mereka menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien.
4. Rasa otonomi dan kepercayaan diri
Selanjutnya karyawan bebas untuk mengatur cara kerja yang merasa lebih dihargai. Dengan demikian, nantinya karyawan akan lebih puas kerja sekaligus memperkuat motivasi intrinsik.
5. Keseimbangan hidup lebih terjaga
Dengan fleksibilitas waktu, karyawan bisa lebih mudah mengatur jadwal olahraga, istirahat, atau aktivitas personal lainnya. Hal ini mendukung kesehatan mental secara menyeluruh.
Dampak Negatif Kerja Hybrid terhadap Kesehatan Mental
Walaupun banyak manfaat yang didapatkan, bekerja dengan konsep hybrid juga memiliki sejumlah tantangan berikut adalah dampak negatifnya:
1. Rasa isolasi dan kesepian
Ketika terlalu banyak bekerja dari rumah, karyawan bisa merasa terputus dari tim. Minimnya interaksi tatap muka dapat menimbulkan rasa kesepian dan menurunkan motivasi kerja.
2. Komunikasi tim yang kurang efektif
Tidak semua diskusi bisa digantikan oleh meeting online. Dengan demikian miscommunication sering terjadi, terutama dalam proyek yang membutuhkan koordinasi intensif.
3. Burnout akibat batas kerja dan pribadi kabur
Bekerja dari rumah membuat batas antara jam kerja dan waktu pribadi semakin tipis. Akibatnya, karyawan bisa merasa terus “on” dan sulit benar-benar beristirahat.
4. Tekanan adaptasi teknologi
Tidak semua karyawan terbiasa dengan tools digital. Ketidakmampuan beradaptasi dengan sistem baru dapat menimbulkan stres tambahan dan rasa frustasi.
5. Ketidakpastian karier
Beberapa karyawan merasa khawatir peluang pengembangan karier berkurang karena jarang hadir di kantor, sehingga menimbulkan kecemasan jangka panjang.
Strategi Mengurangi Dampak Negatif Kerja Hybrid
Agar kesehatan mental dapat tetap terjaga, baik perusahaan maupun karyawan tentunya harus memiliki strategi yang dapat mengurangi kelelahan mental. Berikut adalah strateginya:
1. Rutin check-in tim
Mengadakan meeting singkat atau mentoring mingguan membantu menjaga komunikasi, rasa kebersamaan, dan mengurangi isolasi.
2. Program wellness perusahaan
Perusahaan dapat menyediakan konseling, workshop manajemen stres, atau aktivitas olahraga bersama untuk mendukung kesehatan mental karyawan.
3. Manajemen waktu dan self-care
Karyawan perlu disiplin membatasi jam kerja, memberi waktu untuk istirahat, serta menjaga pola hidup sehat agar tidak mudah burnout.
4. Pemanfaatan teknologi untuk kolaborasi sehat
Karyawan dan perusahaan dapat menggunakan project management tools seperti ClickUp. Sebab ClickUp dapat membantu dalam mengatur project menjadi lebih terstruktur seperti tugas, deadline maupun komunikasi. Selain itu, dengan adanya deadline yang jelas, maka karyawan tidak merasa terbebani oleh ketidakpastian.
5. Budaya komunikasi terbuka
Perusahaan perlu mendorong karyawan untuk berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi. Transparansi ini membantu menemukan solusi lebih cepat dan mengurangi tekanan psikologis.
MimosaTree: Bantu Optimalkan Kultur Kerja Hybrid
Memberlakukan sistem kerja hybrid tentunya sangat bermanfaat bagi kesehatan mental karyawan. Namun disisi juga memiliki dampak negatif jika belum dilengkapi dengan strategi yang tepat.
Oleh karena itu ClickUp hadir sebagai Project management tools yang dapat membantu tim mengatur tugas, deadline, dan komunikasi secara lebih terstruktur. Dengan dukungan pelatihan ClickUp Indonesia, perusahaan bisa memastikan bahwa setiap anggota tim memahami cara memaksimalkan fitur-fitur yang ada, sehingga kerja hybrid tetap produktif sekaligus menjaga kesehatan mental.
Jika perusahaan atau Anda telah menggunakan ClickUp namun masih bingung dalam memaksimalkannya. Mengikuti pelatihan ClickUp dari MimosaTree adalah pilihan terbaik. Dengan dukungan dari MimosaTree sebagai partner resmi ClickUp di Indonesia, mengikuti pelatihan ClickUp tidak hanya di jelaskan teori saja, tetapi juga memberikan praktik langsung yang relevan dengan kebutuhan tim bisnis.
Tertarik untuk mengoptimalkan sistem kerja hybrid dengan ClickUp? Yuk hubungi kami sekarang.








