Mengenal Timesheet Pada Manajemen Proyek

Pondasi keberhasilan sebuah proyek tentunya dimulai dengan pengelolaan waktu yang efektif. Tanpa sistem pencatatan waktu yang transparan, bisa berisiko menciptakan distribusi beban kerja yang tidak merata, menghambat produktivitas tim, dan menyebabkan ketidakseimbangan antara target dan kemampuan eksekusi. Di titik inilah timesheet sering kali digunakan untuk menyediakan data akurat yang menjadi landasan pengambilan keputusan, baik terkait alokasi sumber daya, estimasi biaya, maupun prioritas tugas selama pelaksanaan proyek. Apa Itu Timesheet? Timesheet adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur dan mencatat waktu yang dihabiskan oleh seseorang dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan dalam proyek. Biasanya, timesheet berisi kolom-kolom yang berguna untuk mencatat berbagai informasi terkait waktu, baik itu jam mulai, jam selesai, durasi, dan deskripsi aktivitas yang dilakukan. Jika pada manajemen proyek, timesheet sering kali digunakan untuk memantau penggunaan waktu dalam pengerjaan sebuah proyek tertentu. Dengan demikian, adanya timesheet ini seringkali didefinisikan sebagai alat pengukur waktu yang penting untuk memastikan bahwa proyek berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Mengapa Timesheet Penting Dalam Manajemen Proyek? Melalui adanya timesheet, maka pengelolaan waktu Anda akan menjadi lebih baik. Tak hanya itu saja, penggunaan timesheet juga bermanfaat sebagai berikut: 1. Pengelolaan Waktu Melalui adanya timesheet, manajer proyek akan dapat dengan mudah untuk mengelola waktu tim dalam menyelesaikan berbagai tugas. Sebab, nantinya timesheet memungkinkan untuk memonitor waktu yang dihabiskan oleh setiap anggota tim dalam setiap pengerjaan proyek. Sehingga, manajer proyek dapat memastikan bahwa setiap anggota tim dapat memenuhi tenggat waktu yang telah ditentukan, serta mengidentifikasi tugas mana yang memerlukan lebih banyak waktu atau yang memiliki prioritas tertentu. 2. Informasi Mengenai Kinerja Tak hanya sebatas pengelola waktu saja, tetapi timesheet sering kali menampilkan informasi kinerja. Dengan demikian, project manager dapat melihat seberapa efektif anggota tim dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah menjadi to-do. Terutama, timesheet memungkinkan untuk menganalisis produktivitas setiap individu dan mengidentifikasi apakah mereka bekerja sesuai dengan ekspektasi yang telah ditentukan. 3. Pembagian Beban Kerja Karena timesheet dapat memberikan informasi mengenai kinerja, itu artinya project manager dapat dengan mudah untuk mengetahui waktu yang dihabiskan dalam menyelesaikan tugas. Dengan demikian, nantinya manajer proyek dapat menganalisis beban kerja setiap anggota tim dan menentukan apakah beban kerja tersebut seimbang atau tidak. Jika seorang anggota tim menghabiskan lebih banyak waktu pada suatu tugas dibandingkan dengan rekan-rekannya, manajer proyek dapat segera mendistribusikan ulang beban kerja untuk memastikan tidak ada yang terlalu terbebani. 4. Peningkatan Akuntabilitas Timesheet juga membantu dalam meningkatkan akuntabilitas dalam proyek. Sebab, timesheet biasanya akan mencatat secara rinci waktu yang telah dihabiskan dalam penyelesaian tugas yang diberikan. Melalui catatan inilah yang akan membantu project manager untuk memastikan bahwa setiap anggota tim bertanggung jawab atas pekerjaan yang mereka lakukan. 5. Transparansi Proyek Karena semua aktivitas pengerjaan tugas akan tercatat pada timesheet, maka akan meningkatkan transparansi proyek. Sebab, setiap langkah dan waktu yang dihabiskan dalam menyelesaikan tugas akan tercatan dengan jelas. Dengan demikian, manajer proyek dan semua pihak yang terkait dapat melihat progress secara real-time. Selain itu, melalui transparansi inilah semua hambatan sejak dini dan mengidentifikasi masalah dapat mudah ditemukan. Jenis-jenis Timesheet yang Biasanya Digunakan oleh Perusahaan Pada dasarnya, setiap perusahaan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam mengelola waktu kerja karyawan, tergantung pada kebutuhan perusahaan. Berikut adalah jenis-jenis timesheet yang perlu diketahui: 1. Timesheet Manual Salah satu jenis dari timesheet adalah timesheet manual. Walaupun bersifat tradisional, timesheet ini akan mencatat waktu kerja karyawan dengan cara yang cukup sederhana, yakni melalui pencatatan tangan di lembaran kertas atau formulir yang disediakan. Karyawan akan mencatat jam mulai, jam selesai, serta deskripsi aktivitas atau tugas yang dilakukan pada hari tersebut. 2. Timsheet Berbasis Spreadsheet Jenis selanjutnya yaitu timesheet berbasis spreadsheet seperti Microsoft Excel atau Google Sheets yang akan mencatatnya secara lebih digital. Sebab, dengan penggunaan tabel digital, karyawan akan mencatat waktu kerja yang lebih terstruktur dan mudah diakses. Spreadsheet memungkinkan pencatatan waktu yang lebih rapi, dengan kolom-kolom yang jelas untuk jam mulai, jam selesai, durasi, dan deskripsi tugas yang dilakukan. 3. Timesheet Berbasis Aplikasi Timesheet berbasis aplikasi adalah jenis timesheet yang menggunakan perangkat lunak atau aplikasi manajemen proyek seperti Trello, Asana, atau ClickUp, yang sudah dilengkapi dengan fitur pelacakan waktu. Melalui penggunaan aplikasi ini karyawan cukup untuk mengisi waktu mereka melalui aplikasi, yang memungkinkan pencatatan waktu lebih mudah dan efisien. 4. Timesheet Berbasi Cloud Walaupun terlihat sama seperti aplikasi, timesheet berbasis cloud ini memiliki perbedaan signifikan dalam hal aksesibilitas dan penyimpanan data. Timesheet berbasis cloud memungkinkan karyawan dan manajer proyek untuk mengakses dan memperbarui data secara real-time, dari perangkat apa pun yang terhubung ke internet, tanpa terikat oleh lokasi atau perangkat tertentu. 5. Timesheet Mobile Timesheet mobile pada dasarnya merupakan aplikasi berbasis seluler yang memungkinkan karyawan untuk melacak waktu kerja mereka langsung dari smartphone yang dimiliki. Hal ini sangat berguna untuk perusahaan dengan pekerja lapangan atau yang bekerja di lokasi yang berbeda-beda. Bagaimana Cara Kerja Timesheet dalam Proyek Tertentu? Pada dasarnya, cara kerja timesheet sangatlah sederhana namun efektif dalam mendukung produktivitas. Berikut adalah tahapan yang umumnya ada pada sebuah timesheet: 1. Pencatat Waktu Setiap anggota tim harus mencatat waktu yang mereka habiskan pada berbagai tugas dalam proyek, baik itu secara manual atau menggunakan aplikasi timesheet. Biasanya, ini melibatkan pencatatan jam mulai dan selesai untuk setiap tugas. 2. Pengumpulan Data Setelah anggota tim mengisi timesheet mereka, data tersebut dikumpulkan dan dianalisis oleh manajer proyek untuk melihat berapa banyak waktu yang dihabiskan pada setiap aktivitas. 3. Penggunaan Data untuk Pengambilan Keputusan Data dari timesheet digunakan untuk memantau perkembangan proyek, mengevaluasi alokasi waktu, dan melakukan penyesuaian jika diperlukan. Misalnya, jika ada aktivitas yang memakan lebih banyak waktu dari yang diperkirakan, manajer proyek dapat mempertimbangkan untuk menambah sumber daya atau memperpanjang tenggat waktu. 4. Laporan Keuangan Timesheet juga digunakan untuk menghitung biaya yang dikeluarkan untuk setiap fase proyek. Ini membantu dalam pengelolaan anggaran proyek secara keseluruhan. Kapan Timesheet Digunakan? Setelah mengetahui pengertian, manfaat, dan jenis dari timesheet, pastinya menimbulkan pertanyaan, kapan timesheet digunakan pada sebuah proyek? Timesheet digunakan pada berbagai tahap dalam proyek untuk memastikan pengelolaan waktu dan sumber daya yang efisien. Berikut adalah tahapan penting yang sering kali digunakan pada saat manajemen proyek: 1. Pada Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan proyek, timesheet digunakan untuk mengestimasi jumlah waktu yang diperlukan
Apa Itu Lorem Ipsum? Sejarah, Makna, dan Fungsinya dalam Desain

Dalam dunia desain grafis, publishing, hingga pengembangan antarmuka digital, ada satu teks yang hampir pasti pernah muncul di layar para desainer, yaitu Lorem Ipsum. Sekilas terlihat seperti bahasa Latin acak yang tidak bermakna, tetapi sebenarnya Lorem Ipsum memiliki sejarah panjang dan fungsi penting dalam proses kreatif. Sejak era percetakan klasik pada abad ke-16 hingga industri digital modern, teks dummy ini digunakan sebagai placeholder untuk membantu desainer memvisualisasikan tata letak, menguji tipografi, dan memastikan keseimbangan visual sebelum konten asli siap dimasukkan. Meski sering dianggap sekadar rangkaian kata tanpa arti, Lorem Ipsum memiliki kisah menarik di balik penggunaannya, mulai dari sumber aslinya yang berasal dari karya sastra kuno, hingga evolusinya menjadi standar global dalam desain. Artikel ini akan membahas apa itu Lorem Ipsum, asal-usulnya, makna tersembunyi di dalamnya, serta mengapa teks ini masih menjadi alat penting dalam dunia desain hingga saat ini. Apa Itu Lorem Ipsum? Lorem Ipsum adalah teks dummy atau teks pengisi (placeholder text) yang digunakan dalam industri desain grafis, percetakan, dan pengembangan web untuk meniru bentuk konten nyata. Teks ini biasanya berupa paragraf berbahasa Latin yang tampak acak dan tidak memiliki makna utuh, namun strukturnya menyerupai pola tulisan manusia. Karena bentuknya yang natural dan tidak mengganggu perhatian, Lorem Ipsum membantu desainer memfokuskan diri pada elemen visual seperti tata letak, tipografi, warna, dan komposisi, tanpa terdistraksi oleh isi teks yang sebenarnya. Dalam praktiknya, Lorem Ipsum digunakan pada mockup website, template majalah, wireframe aplikasi, poster, hingga sistem desain digital. Tujuan utamanya adalah memberikan gambaran realistis tentang bagaimana sebuah desain akan terlihat ketika diisi teks sungguhan. Dengan demikian, perancang dapat mengevaluasi keseimbangan visual dan keterbacaan sebelum konten final tersedia. Sejarah dan Asal-Usul Lorem Ipsum Lorem Ipsum memiliki sejarah panjang yang bermula dari dunia literatur klasik. Teks ini berasal dari karya filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero, berjudul “De Finibus Bonorum et Malorum” (Tentang Batas-Batas Kebaikan dan Kejahatan) yang ditulis pada tahun 45 SM. Bagian Lorem Ipsum yang kita kenal saat ini diambil dari bab 1.10.32 dan 1.10.33 dalam buku tersebut. Namun, seiring perkembangan zaman, sebagian kata di dalamnya telah dimodifikasi sehingga tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan teks aslinya. Penggunaan Lorem Ipsum sebagai teks dummy dimulai pada abad ke-16 ketika seorang pencetak tak dikenal memotong dan menyusun potongan teks Cicero untuk membuat contoh tata letak halaman. Tujuannya sederhana, yaitu untuk menampilkan bentuk desain tanpa perlu menyiapkan isi konten yang sebenarnya. Sejak saat itu, Lorem Ipsum menjadi standar de facto dalam industri percetakan. Ketika era digital hadir, penggunaan Lorem Ipsum semakin meluas. Software seperti Adobe PageMaker, bahkan CMS modern dan generator online, mulai menyertakan Lorem Ipsum sebagai opsi otomatis untuk mengisi layout. Warisan berabad-abad ini menjadikan Lorem Ipsum sebagai elemen penting dalam proses desain hingga hari ini. Makna Bahasa Latin pada Lorem Ipsum Meskipun sering dianggap sebagai rangkaian kata acak, Lorem Ipsum sebenarnya berasal dari teks Latin klasik karya Cicero. Namun, versi yang kita kenal saat ini telah mengalami berbagai perubahan, seperti penghilangan kata, pemotongan frasa, hingga penambahan istilah nonsens yang tidak ditemukan dalam teks aslinya. Hal inilah yang membuat Lorem Ipsum tampak tidak bermakna ketika dibaca secara utuh. Secara garis besar, beberapa bagian Lorem Ipsum masih memiliki arti jika diterjemahkan dari bahasa Latin. Misalnya, frasa “dolor sit amet” dalam konteks aslinya berkaitan dengan pembahasan tentang rasa sakit dan kenikmatan dalam karya Cicero. Namun karena banyak bagian yang tercampur dan terdistorsi, struktur kalimatnya tidak lagi membentuk narasi yang koheren. Dengan kata lain, ada jejak makna, tetapi tidak ada pesan utuh. Ketidaksengajaan makna inilah yang membuat Lorem Ipsum ideal sebagai teks dummy. Karena tidak mengandung pesan yang bisa mengalihkan perhatian pembaca, desainer dapat menggunakannya untuk menampilkan bentuk visual konten tanpa risiko pembaca fokus pada isi teks. Kombinasi antara bentuk alami bahasa Latin dan ketidakjelasan makna menjadikan Lorem Ipsum tetap relevan sebagai standar global dalam dunia desain. Alasan Lorem Ipsum Dipakai Secara Luas Lorem Ipsum telah menjadi standar global dalam dunia desain bukan tanpa alasan. Teks ini menawarkan sejumlah keunggulan yang membuatnya jauh lebih efektif dibandingkan menggunakan teks asli atau tulisan acak. Salah satu alasan utamanya adalah struktur tulisan Lorem Ipsum yang menyerupai pola bahasa manusia. Dengan distribusi huruf dan panjang kata yang natural, tampilan layout menjadi lebih realistis sehingga desainer dapat menilai proporsi, keseimbangan, dan keterbacaan dengan lebih akurat. Selain itu, Lorem Ipsum bersifat non-distractive, dimanateks ini tidak memiliki makna utuh sehingga tidak mengalihkan perhatian pembaca atau klien dari elemen visual desain. Saat menggunakan teks nyata, orang cenderung fokus membaca konten, bukan menilai tata letaknya. Dengan Lorem Ipsum, fokus tetap berada pada desain itu sendiri. Hal ini sangat penting dalam proses presentasi konsep, review prototipe, hingga pengembangan UI/UX. Faktor lain yang membuat Lorem Ipsum tetap populer adalah ketersediaannya yang sangat luas. Hampir semua perangkat lunak desain, CMS, template website, hingga generator online menyediakan Lorem Ipsum sebagai opsi default. Konsistensi ini memudahkan kolaborasi antar-designer dan developer, karena setiap orang sudah familiar dengan fungsi serta tampilannya. Kombinasi kemudahan, efektivitas, dan standar industri menjadikan Lorem Ipsum tetap digunakan secara luas hingga saat ini. Fungsi Lorem Ipsum dalam Desain Modern Dalam dunia desain modern, baik desain grafis, UI/UX, maupun pengembangan web, Lorem Ipsum memainkan peran penting sebagai elemen bantu untuk menampilkan struktur visual secara lebih realistis. Teks dummy ini digunakan untuk mengisi ruang kosong pada layout sehingga desainer dapat memahami bagaimana tampilan akhir akan terlihat ketika konten asli belum tersedia. Dengan demikian, pengujian tata letak, ritme visual, serta hirarki tipografi dapat dilakukan sejak tahap awal. Salah satu fungsi utamanya adalah membantu desainer dan developer menilai readability atau tingkat keterbacaan. Dengan menggunakan teks yang panjang dan bebas makna, mereka dapat menguji apakah ukuran font, jarak antarbaris, serta proporsi kolom sudah nyaman dilihat. Selain itu, Lorem Ipsum juga berfungsi sebagai alat komunikasi visual saat mempresentasikan konsep kepada klien. Karena teksnya tidak mengandung pesan tertentu, klien dapat fokus menilai estetika dan struktur desain tanpa terdistraksi oleh isi konten. Dalam pengembangan produk digital, Lorem Ipsum sering digunakan dalam wireframe, mockup, dan prototipe untuk menyimulasikan pengalaman pengguna sebenarnya. Hal ini memungkinkan tim mempertimbangkan aspek seperti alur membaca, kenyamanan antarmuka, serta konsistensi elemen teks sebelum konten final terintegrasi. Dengan fleksibilitas dan kemampuannya memberikan visualisasi realistis,
Apa Itu Micro Drama? Tren Video Singkat Yang Mengubah Storytelling

Di era konten serba cepat, cara kita menikmati cerita turut berubah. Jika dulu drama identik dengan episode panjang, kini audiens justru tertarik pada format super singkat yang padat, emosional, dan mudah diikuti, dan format konten ini bernama micro drama. Tren video pendek ini berkembang pesat di platform seperti TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts, menghadirkan alur cerita yang mampu memikat penonton hanya dalam hitungan detik. Micro drama bukan sekadar hiburan singkat, tetapi juga fenomena baru dalam dunia storytelling digital. Format ini menggabungkan kreativitas, kecepatan, dan kedekatan dengan penonton, sehingga menjadi favorit baik bagi kreator maupun brand yang ingin menyampaikan pesan secara lebih efektif. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang apa itu micro drama, bagaimana perkembangannya, serta mengapa format ini menjadi tren yang mengubah cara bercerita di era modern. Apa Itu Micro Drama? Micro drama adalah bentuk konten video singkat yang menyajikan cerita lengkap dalam durasi yang sangat pendek—umumnya antara 30 hingga 90 detik per episode. Tidak seperti video pendek biasa yang hanya menghadirkan hiburan spontan, micro drama memiliki struktur naratif yang jelas. Di dalam durasi yang terbatas, micro drama tetap memuat elemen storytelling seperti pengenalan karakter, konflik, klimaks, hingga penyelesaian atau twist. Format ini lahir dari perubahan perilaku konsumsi konten modern, di mana audiens cenderung memilih konten instan, mudah diakses, dan cepat dikonsumsi. Micro drama menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan cerita yang padat namun tetap emosional, sehingga mampu memikat penonton hanya dalam hitungan detik. Secara teknis, micro drama juga merupakan evolusi dari storytelling pendek di platform seperti Vine, TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Berbeda dari sketsa humor atau video reaksi, micro drama mengandalkan kekuatan narasi yang terstruktur dan karakter yang dapat berkembang dalam waktu singkat. Banyak micro drama yang dikemas dalam format episodik, misalnya 3 hingga 10 episode untuk menciptakan rasa penasaran dan menjaga penonton tetap mengikuti cerita. Selain aspek hiburan, micro drama juga mulai dimanfaatkan oleh brand untuk membangun pesan pemasaran yang lebih halus namun efektif. Melalui cerita yang relatable dan emosional, micro drama mampu menciptakan koneksi lebih kuat dibandingkan iklan tradisional yang bersifat langsung. Asal Usul Tren Micro Drama Tren micro drama muncul sebagai respons terhadap perubahan perilaku konsumsi konten di era digital, terutama sejak platform short video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts mulai mendominasi. Pada awalnya, kreator hanya membuat video pendek berisi komedi, tips, atau daily vlog. Namun, meningkatnya minat penonton terhadap konten yang memiliki alur cerita membuat kreator bereksperimen dengan format drama singkat. Di Tiongkok, micro drama bahkan berkembang lebih cepat, dengan banyak kreator memproduksi cerita ber-episode pendek yang viral dan ditonton jutaan kali. Popularitas ini kemudian menyebar ke negara lain, termasuk Indonesia, seiring algoritma platform yang semakin mendorong konten storytelling. Seiring waktu, micro drama berkembang menjadi bentuk hiburan baru yang tidak hanya digemari penonton, tetapi juga dimanfaatkan brand untuk menyampaikan pesan marketing secara lebih halus dan emosional. Dengan produksi yang semakin profesional dan cerita yang makin variatif, micro drama kini menjadi salah satu format konten paling inovatif dalam dunia digital. Karakteristik Utama Micro Drama Micro drama memiliki ciri khas yang membedakannya dari video pendek biasa. Format ini dirancang untuk menangkap perhatian penonton dalam hitungan detik sekaligus menyampaikan cerita yang utuh dan emosional. Beberapa karakteristik utamanya meliputi: 1. Durasi Singkat dan Padat Micro drama umumnya berdurasi 30–90 detik, sehingga setiap adegan harus dibuat ringkas dan langsung ke inti cerita. Tidak ada momen yang terbuang, dan setiap detik digunakan untuk membangun alur. 2. Alur Cerita yang Jelas Meski sangat singkat, micro drama tetap menghadirkan elemen storytelling lengkap—pengenalan karakter, konflik, klimaks, hingga penutup. Struktur inilah yang membuatnya terasa seperti “mini episode.” 3. Hook di Detik Pertama Awalan yang kuat sangat penting karena penonton bisa dengan mudah melewati video. Micro drama biasanya dimulai dengan dialog yang memancing rasa ingin tahu, situasi mendesak, atau konflik langsung. 4. Ending Twist yang Memorable Banyak micro drama mengandalkan plot twist atau punchline yang mengejutkan. Elemen ini membuat penonton terpikat dan ingin menonton episode lain. 5. Format Episodik Micro drama sering hadir dalam beberapa episode pendek agar penonton terus mengikuti cerita. Strategi ini meningkatkan watch time, engagement, dan peluang konten menjadi viral. Dengan karakteristik tersebut, micro drama mampu memberikan pengalaman storytelling yang intens, singkat, namun tetap berkesan bagi penonton. Mengapa Micro Drama Menjadi Viral? Popularitas micro drama bukan terjadi secara kebetulan. Format ini berhasil menjawab kebutuhan sekaligus perubahan perilaku penonton di era digital. Beberapa faktor utama yang membuat micro drama begitu cepat viral antara lain: 1. Konsumsi Konten yang Serba Cepat Di tengah rutinitas padat, banyak orang ingin menikmati hiburan singkat tanpa harus meluangkan waktu lama. Micro drama menawarkan cerita lengkap dalam hitungan detik, sehingga mudah dinikmati di sela aktivitas. 2. Algoritma yang Mendukung Video Pendek Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts memprioritaskan konten berformat short-form. Micro drama, dengan engagement tinggi dan kesempatan rewatch besar, memiliki peluang lebih besar untuk didorong oleh algoritma. 3. Cerita yang Mudah Dipahami dan Relatable Micro drama sering kali mengangkat situasi sehari-hari, konflik hubungan, atau twist emosional yang dekat dengan pengalaman penonton. Hal ini membuatnya mudah viral dan memancing diskusi. 4. Produksi yang Semakin Mudah Dengan kamera smartphone dan aplikasi editing sederhana, kreator dapat membuat micro drama berkualitas tanpa biaya besar. Akses yang mudah ini mendorong banyak kreator baru bermunculan. 5. Format Episodik yang Bikin Ketagihan Micro drama biasanya dibuat berkelanjutan dalam beberapa episode. Pola cliffhanger di akhir episode membuat penonton penasaran dan terus mengikuti, sehingga meningkatkan peluang viral. Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, micro drama menjadi fenomena baru yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menciptakan ekosistem kreator yang semakin berkembang di dunia digital. Dampak Micro Drama Terhadap Storytelling Munculnya micro drama membawa perubahan besar dalam cara cerita disampaikan di era digital. Format yang sangat singkat memaksa kreator untuk memadatkan elemen-elemen cerita tanpa mengurangi kekuatan emosionalnya. Hal ini menimbulkan beberapa dampak penting pada dunia storytelling: 1. Cerita Menjadi Lebih Ringkas dan Efisien Kreator dituntut untuk menyampaikan konteks, karakter, dan konflik dalam waktu yang sangat terbatas. Hasilnya, storytelling kini lebih fokus, langsung ke inti, dan bebas dari adegan yang tidak diperlukan. 2. Peningkatan Peran Hook dan Twist Karena penonton bisa melewati video kapan saja,